Dasar
Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Secara filosofis, manusia memiliki
potensi untuk dikembangkan seoptimal mungkin. Potensi itu sendiri adalah laten
power, yakni kekuatan, kemampuan, keunggulan, keunikan yang belum tampak, belum
menjadi prestasi, belum mewujud dalam bentuk perilaku. Sedangkan perkembangan
optimal adalah perkembangan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Prestasi (achievment)
sesuai dengan yang diprediksikan.
Hal lain yang menjadi alasan
perlunya bimbingan adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peserta
didik memerlukan bantuan dari pembimbing untuk menyesuaikan minat dan kemampuan
mereka terhadap kesempatan dunia kerja yang cenderung semakin berubah dan
meluas.
Dasar
Bimbingan
Secara harfiah istilah “guidance”
dari akar kata “guide” berarti :
(1) mengarahkan (to direct),
(2) memandu (to pilot),
(3) mengelola (to manage)
Shertzer dan Stone (1971:40)
mengartikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu agar
mampu memahami diri dan lingkungannya).”
Sunaryo Kartadinata (1998: 3)
mengartikannya sebagai “proses membantu individu untuk mencapai perkembangan
optimal”. Sementara Rochman Natawidjaja (1987: 37) mengartikan bimbingan
sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara
berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia
sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan
tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan
pada umumnya. Dengan demikian dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya,
dan dapat memberi sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada
umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan optimal sebagai
makhluk sosial.
Dari definisi diatas maka dapat
disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses berkesinambungan sebagai
upaya membantu untuk memfasilitasi individu agar berkembang secara optimal.
Membantu merupakan sesuatu yang
tidak dirasakan sebagai paksaan, dan makna bantuan dalam bimbingan menunjukan
bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau mengambil
keputusan adalah individu atau peserta didik sendiri, pembimbing hanya sebagai
fasilitator.
Perkembangan optimal adalah
perkembangan yang sesuai dengan potensi individu dan sistem nilai tentang
kehidupan yang baik dan benar. Perkembangan optimal merupakan kondisi dinamik,
dimana individu mampu mengenal dan memahami diri, berani menerima kenyataan
diri secara subyektif, mengarahkan diri sesuai dengan kemampuan, kesempatan dan
sistem nilai dan melakukan pilihan dan mengambil keputusan atas tanggung jawab
sendiri.
Dasar
Pembelajaran
Pembelajaran adalah penyediaan
sistem lingkungan yang mengakibatkan terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Sumber lain menyebutkan pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan pendidik
agar peserta didik belajar atau membelajarkan diri. Belajar yang dimaksud
adalah proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman. Perubahan
disini sebagai hasil pembelajaran bersifat positif dan normatif.
Dari pernyataan diatas, maka
pembelajaran berbasis bimbingan itu sangatlah penting untuk diterapkan karena
pembelajaran yang baik, tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif saja
akan tetapi dapat menghasilkan sebuah output berupa lahirnya perubahan perilaku
siswa atau peserta didik yang positif dan normatif. Maka dari itu, pembelajaran
seyogyanya berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan yaitu yang didasarkan
pada:
a)
Needs assesment (sesuai dengan kebutuhan)
b)
Dikembangkan dalam suasana membantu (helping relationship):
- Empati
- Keterbukaan
- Kehangatan Psikologis
- Realistis
c)
Bersifat memfasilitasi
d)
Berorientasi pada:
- Learning to be : belajar menjadi
- Learning to learn : belajar untuk belajar
- To work : belajar untuk bekerja dan berkarir
- And to live together : belajar untuk hidup bersama
- Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal
Model-model
Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan Konseling.
Untuk membelajarkan siswa sesuai
dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai
dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru)
harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala
situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang
tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar,
fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
Berikut ini disajikan beberapa model
pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk
situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan
pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang
sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan
penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.
1.
Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan
fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang
lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa
senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara
koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing)
pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup
bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif
adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling
membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut
teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota
kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender,
karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil
kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif
adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja
kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
2.
Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah
pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka,
negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life
modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan,
motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana
menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual
adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan
mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indikator pembelajaran
kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling
(pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan,
pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing,
menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi),
learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau
individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi,
hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun
pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection
(reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama
proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha
siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai
aspek dengan berbagai cara).
3.
Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi
dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika
disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan
siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan
mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau
ekspositori (ceramah bervariasi).
4.
Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan
menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan
untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari
kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka,
negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat
berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini
adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi,
investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri.
5.
Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan
sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya.
Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian
(menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan
permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa berkelompok atau individual
mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi,
mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.
6.
Problem Posing
Bentuk lain dari problem posing
adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu
merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga
dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan,
menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
7.
Problem Terbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem
(masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan
pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi
jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide,
kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing,
keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan
metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban
siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai
jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan
proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpasuan,
keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual
kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan
permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi
selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah,
pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan
pengarahan, membuat kesimpulan.
8.
Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah
pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya
menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan
pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang
dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi
pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.
Dengan model pembelajaran ini proses
tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa
mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari
proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan
akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi
kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah
ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga
suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban
siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar,
ia telah berpartisipasi.
IMPLIKASI : Individu akan berkembang kemampuannya,dalam kehidupan sehari-hari misalnya dapat kita kaitkan tentang perkembangan terhadap kemandirian individu (peserta didik) melalui peningkatan kecerdasan emosi dari pendidik dalam hal ini bisa saja guru, orang tua, yang sangat mempengaruhi terhadap individu untuk berkembang.sehingga untuk mencapai hasil yang maksimal yaitu pendidik harus berperan sebagai sahabat sehingga individu mampu mengembangkan diri menjadi manusia mandiri, maka di perlukan beberapa langkah. Untuk menjadi mandiri dan menjadi sahabat tadi, seorang pendidik membutuhkan beberapa prasyarat salah satunya ialah kemampuan pengelolaan emosi probadi yang efektif. Dengan kata lain, pendidik di harapkan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi.bagi seorang pendidik yang ingin mengembangkan kecerdasan emosi, ada langkah-langkah yang perlu di perhatikan yaitu langkah untuk mengembangkan kecerdasan emosi
Sumber :
ABKIN. 2013. Panduan
Khusus Bimbingan dan Konseling: Pelayanan Arah Peminatan Peserta Didik.
Jakarta: Kemendikbud
Candra Robby. 2005. Pendidikan Menuju Manusia Mandiri. Bandung: Generasi Infomedia