Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima
pelajaran. Ada siswa yang sangat mudah memahami sebuah materi adapula siswa
yang sulit menerimapelajran yang diberikan. Sebagai pendidik wajib bagi kita
untuk membantu siswa yang memiliki kesulitan. Bantuan yang diberikan itu, akan
berhasil dan dapat dilaksanakan secara efektif apabila kita secara teliti dapat
memahami sifat kesulitan yang dialami, mengetahui secara tepat faktor yang
menyebabkannya serta menemukan berbagai cara mengatasinya yang relevan dengan
faktor penyebabnya. Prayitno dalam Buku Bahan Pelatihan Bimbingan dan Konseling
(Dari “Pola Tidak Jelas ke Pola Tujuh Belas”) Materi Layanan Pembelajaran,
Depdikbud (1996) mengatakan bahwa secara skematik langkah-langkah diagnostik
dan remedial kesulitan belajar untuk kegiatan bimbingan belajar.
1. Identifikasi Kasus
Pada langkah ini, menentukan siswa
mana yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Cara-cara yang ditempuh dalam langkah
ini, sebagai berikut:
a. Menandai siswa dalam satu kelas
untuk kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
b. Caranya, ialah dengan membandingkan
posisi atau kedudukan prestasi siswa dengan prestasi kelompok atau dengan
kriteria tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan.
c. Teknik yang ditempuh dapat
bermacam-macam, antara lain:
(1) Meneliti nilai hasil ujian
semester yang tercantum dalam laporan hasil belajar (buku leger), dan kemudian
membandingkan dengan nilai rata-rata kelompok atau dengan kriteria yang telah
ditentukan.
(2) Mengobservasi kegiatan siswa dalam
proses belajar mengajar, siswa yang berperilaku menyimpang dalam proses belajar
mengajar diperkirakan akan mengalami kesulitan belajar.
2. Identifikasi Masalah
Setelah menentukan dan memprioritaskan
siswa mana yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka langkah berikutnya
adalah menentukan atau melokalisasikan pada bidang studi apa dan pada aspek
mana siswa tersebut mengalami kesulitan. Antara bidang studi tentu saja ada
bedanya, karena itu guru bedang studi lebih mengetahuinya. Pada tahap ini
kerjasama antara petugas bimbingan dan konseling, wali kelas, guru bidang studi
akan sangat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Cara dan alat
yang dapat digunakan, antara lain:
a.
Cara
yang langsung dapat digunakan oleh guru, misalnya:
(1) Tes diagnostik yang dibuat oleh
guru untuk bidang studi masing-masing,mseperti untuk bidang studi Matematika,
IPA, IPS, Bahasa dan yang lainnya. Dengan tes diagnostik ini dapat diketemukan
karakteristik dan sifat kesulitan belajar yang dialami siswa.
(2) Bila tes diagnostik belum
tersedia, guru bisa menggunakan hasil ujian siswa sebagai bahan untuk
dianalisis. Apabila tes yang digunakan dalam ujian tersebut memiliki taraf
validitas yang tinggi, tentu akan mengandung unsure diagnosis yang tinggi.
Sehingga dengan tes prestasi hasil belajar pun, seandainya valid dalam
batas-batas tertentu akan dapat mengdiagnosis kesulitan belajar siswa.
(3) Memeriksa buku catatan atau
pekerjaan siswa. Hasil analisis dalam aspek ini pun akan membantu dalam mendiagnosis
kesulitan belajar siswa. Mungkin pula untuk melengkapi data di atas, bisa
bekerjasama dengan orang tua atau pihak lain yang erat kaitannya dengan lembaga
sekolah. Caranya, antara lain:
a Menggunakan tes diagnostik yang
sudah standar
b Wawancara khusus oleh ahli yang
berwewenang dalam bidang ini.
c Mengadakan observasi yang intensif,
baik di dalam lingkungan rumah maupun di luar rumah.
d Wawancara dengan guru pembimbing dan
wali kelas, dengan orang tua atau dengan teman-teman di sekolah.
3. Identifikasi Faktor Penyebab
Kesulitan Belajar
Faktor penyebab kesulitan belajar
dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal, yaitu
faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal
ini antara lain, disebabkan oleh:
(1) Kelemahan fisik, pancaindera,
syaraf, cacat karena sakit, dan sebagainya.
(2) Kelemahan mental: faktor
kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat yang dapat diketahui dengan tes
psikologis.
(3) Gangguan-gangguan yang bersifat
emosional.
(4) Sikap kebiasaan yang salah dalam
mempelajari materi pelajaran.
(5) Belum memiliki pengetahuan dan
kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut.
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang
berasal dari luar diri siswa, sebagai penyebab kesulitan belajar, antara lain:
(1) Situasi atau proses belajar
mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang
memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif “student active learning”).
(2) Sifat kurikulum yang kurang
fleksibel.
(3) Beban studi yang terlampau berat.
(4) Metode mengajar yang kurang
menarik
(5) Kurangnya alat dan sumber untuk
kegiatan belajar
(6) Situasi rumah yang kurang kondusif
untuk belajar.
4. Prognosis/Perkiraan Kemungkinan
Bantuan
Setelah mengetahui letak kesulitan
belajar yang dialami siswa, jenis dan sifat kesulitan dengan faktor-faktor
penyebabnya, maka akan dapat memperkirakan kemungkinan bantuan atau tindakan
yang tepat untuk membantu kesulitan belajar siswa. Pada langkah ini, dapat menyimpulkan
tentang:
a. Apakah siswa masih dapat ditolong
untuk dapat mengatasi kesulitan belajarnya atau tidak ?
b. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk
mengatasi kesulitan yang dialami siswa tersebut ?
c. Kapan dan di mana pertolongan itu
dapat diberikan ?
d. Siapa yang dapat memberikan
pertolongan ?
e. Bagaimana caranya agar siswa dapat
ditolong secara efektif ?
f. Siapa sajakah yang perlu dilibatkan
atau disertakan dalam membantu siswa tersebut, dan apakah peranan atau
sumbangan yang dapat diberikan masing-masing pihak dalam menolong siswa
tersebut ?
5. Referal
Pada langkah ini, menyusun suatu
rencana atau alternatif bantuan yang akan dilaksanakan. Rencana ini hendaknya
mencakup:
a. Cara-cara yang harus ditempuh untuk
menyembuhkan kesulitan belajar yang dialami siswa yang bersangkutan.
b. Menjaga agar kesulitan yang serupa
jangan sampai terulang lagi.
Dalam membuat rencana kegiatan untuk
pelaksanaan sebagai alternative bantuan sebaiknya, didiskusikan dan
dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang dipandang berkepentingan, yang
diperkirakan kelak terlibat dalam proses pemberian bantuan.
Contoh lain, selama proses belajar
mengajar berlangsung, guru dapat mengamati kegiatan dan pekerjaan siswa dengan
begitu guru dapat mengetahui kekeliruankekeliruan yang dibuat oleh siswa dan
dengan segera dan langsung memberikan upaya bantuan. Dalam kegiatan ini adalah
merupakan upaya diagnostik yang lebih bersifat pengembangan (developmental)
karena dengan upaya itu siswa pada setiap saat dapat memperbaiki kekeliruannya
sehingga sangat diharapkan dapat memperoleh kemajuan belajar secara kontinyu.
Kemajuan belajar siswa dilihat sebagai suatu indikasi adanya perubahan kearah
kemajuan yang ditunjukkan dengan prestasi belajar yang diperoleh siswa.
Konsep Dasar Pengajaran Remedial
Pengajaran Remedial, yaitu suatu
proses kegiatan pelaksanaan program belajar mengajar khusus bersifat
individual, diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang
bersifat mengoreksi (menyembuhkan) siswa yang mengalami gangguan belajar
tersebut sehingga dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal
kembali untuk mencapai prestasi optimal.
Jika tidak dilakukan program
pengajaran remedial, maka siswa tersebut secara kumulatif akan semakin
ketinggalan dan tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal.
Akibatnya siswa semakin merasa rendah diri karena rendah prestasi. Ada pula
siswa yang rendah prestasi tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara
klasikal, terus mencari kompensasi dengan mengganggu suasana kelas, berbuat
ramai, melempar teman, mencari perhatian. Karena itu, guru harus memahami pentingnya
pengajaran remedial dan sanggup melaksanakannya.
Prosedur Pengajaran Remedial
Dalam pelaksanaannya, pengajaran
remedial mengikuti prosedur, sebagai
berikut:
1. Langkah pertama: Penelaahan Kembali
Kasus
Guru menelaah kembali secara lebih
dalam tentang siswa yang akan diberi bantuan. Dari diagnosis kesulitan belajar
yang sudah diperoleh lebih dahulu guru perlu menelaah lebih jauh untuk
memperoleh gambaran secara definitif tentang siswa yang dihadapi,
permasalahannya, kelemahannya, letak kelemahan, penyebab utama kelemahan, berat
ringannya kelemahan, apakah perlu bantuan ahli lain, merencanakan waktu dan
siapa yang melaksanakan.
2. Langkah kedua: Alternatif Tindakan
Setelah memperoleh gambaran lengkap
tentang siswa, baru direncanakan alternatif tindakan, sesuai dengan
karakteristik kesulitan siswa. Alternatif pilihan tindakan bagi kasus yang
mendapatkan kesulitan di dalam belajar, maka langsung saja melakukan remedial,
dan jika ditemukan kasus yang memiliki kesulitan belajar dan memiliki masalah
di luar itu, seperti masalah social psikologis dan sebagainya, maka sebelum diremedial
kasus harus mendapat layanan konseling, layanan psikologis dan atau layanan
psikoterapis terlebih dahulu.
Alternatif tindakan ini dapat berupa:
a. Mengulang bahan yang telah
diberikan dan diberi petunjuk-petunjuk:
(1) Memahami istilah-istilah
kunci/pokok yang ada dalam TIK.
(2) Memberi tanda bagian-bagian
penting yang merupakan kelemahan siswa.
(3) Membuat pertanyaan-pertanyaan
untuk mengarahkan siswa.
(4) Memberi dorongan dan semangat
belajar.
(5) Menyediakan bahan-bahan lain untuk
mempermudah.
(6) Mendiskusikan kesulitan-kesulitan
siswa.
b. Memberi kegiatan lain yang setara
dengan kegiatan belajar mengajar yang sudah ditempuh. Disini dimaksudkan untuk
memperkaya bahan yang telah diberikan kepada siswa, misalnya:
(1) Kegiatan apa yang harus dikerjakan
siswa.
(2) Bahan apa yang dapat menunjang
kegiatan yang sedang dilakukan.
(3) Bagian mana yang harus mendapat
penekanan.
(4) Pertanyaan apa yang diajukan untuk
memusatkan pada inti masalah.
(5) Cara yang baik untuk menguasai
bahan.
c. Tindakan yang berupa referal
Jika kesulitan belajar disebabkan oleh
faktor sosial, pribadi, psikologis yang di luar jangkauan guru, maka guru
melakukan alih tangan kepada ahli lain, misalnya: konselor, psikolog, terapis,
psikiater, sosiolog, dan sebagainya.
3. Langkah ketiga: Evaluasi Pengajaran
Remedial
Pada akhir pengajaran remedial perlu
dilakukan evaluasi, seberapa pengajaran remedial tersebut meningkatkan prestasi
belajar. Tujuannya untuk mencapai tingkat kebehasilan 75% menguasai bahan. Jika
belum berhasil, kemudian dilakukan diagnosis kembali, prognosis dan pengajaran
remedial berikutnya; demikianseterusnya sampai beberapa siklus hingga tercapai
tingkat keberhasilan tersebut.
Ada tiga pendekatan pengajaran
remedial, yaitu:
1. Pendekatan Pencegahan (preventive
approach)
Sebelum proses belajar mengajar
dimulai guru seharusnya berusaha dengan berbagai cara untuk mengetahui kondisi
awal para siswa, dan memprediksi beberapa siswa yang mungkin akan mengalami
kesulitan. Dengan demikian, guru dapat mencegah kesulitan berkembang secara
berlarut-larut dengan menggunakan multi media, multi metode, alat peraga yang
lengkap dan gaya mengajar yang menarik dalam proses belajar mengajar.
2. Pendekatan Penyembuhan (curative
approach)
Pendekatan ini diberikan terhadap
siswa yang nyata-nyata telah mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar
mengajar. Gejalanya, prestasi belajar sangat rendah dibandingkan dengan kriteria,
misalnya 75% penguasaan bahan.
3. Pendekatan Perkembangan (developmental
approach)
Guru dituntut senantiasa mengikuti
perkembangan siswa secara sistematis. Caranya, guru secara terus menerus
memonitor kegiatan siswa selama proses belajar mengajar. Setiap menemui
hambatan, segera dipecahkan bersama siswa secara terus menerus.
Contoh Kasus : pada materi hidrolisis
hasil ulangan harian siswa mayoritas rendah (dibawah KKM) maka guru dapat
melakukan prosedur diagnostic untuk mengetahui penyebab rendahnya nilai siswa
dan dapat mengambil langkah selanjutnya untuk memperbaiki hasil belajar maupun
pemahaman siswa.
IMPLIKASI : guru bidag studi dapat
melakukan prosedur diagnostic untuk mengetahui dan mengatasi materi yang
memiliki hasil belajar jelek. Atau guru bidang studi dapat membantu siswa yang
mengalami kesulitan belajar kimia maupun yang kesulitan hanya pada materi
tertentu di kimia. Remedial juga dapat dilakukan guru bidang studi untuk
memperbaiki hasil belajar siswa dan membantu siswa memahami kembali materi atau
pelajaran yang sulit.
Sumber :
Sugiyanto. 2012. Diagnostik Kesulitan Belajar (DKB). Yogyakarta: UNY
Suryanih. 2011. Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika Siswa
dan Solusinya dengan Pembelajaran dengan Remedial. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah